Baru kemarin aku mengikuti Indonesia Humanitarian Summit 2026 di Nusantara TV Ballroom, Jakarta Timur. Begitu masuk, suasananya langsung terasa hangat dan penuh energi, bukan cuma karena banyak orang hadir, tapi karena aura positif dari semua yang datang. Mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, komunitas dan media hingga para pegiat filantropi. Semua berkumpul dengan satu tujuan yang sama, membuat perubahan nyata untuk masyarakat yang membutuhkan.
Tema "Empowerment to the Next Level" terasa hidup begitu aku melihat acara berjalan. Ini bukan sekadar slogan, energi itu tersirat dari pameran program Dompet Dhuafa, dari talkshow dengan para ahli, bahkan dari cara setiap sesi dan detail acara dirancang. Rasanya kamu bisa merasakan bagaimana setiap program dirancang bukan cuma untuk memberi bantuan, tapi untuk membuka peluang bagi dhuafa agar mandiri dan bermartabat.
Acara dibuka dengan Tarian Saman dari Aceh, sebuah pertunjukan tradisional yang memukau dan langsung menghidupkan suasana. Aku duduk sambil menatap para penari bergerak anggun, warna-warni kostumnya, dan senyum mereka yang menular. Rasanya hangat dan penuh energi, pertunjukan itu bukan sekadar hiburan, tapi juga simbol semangat budaya dan kemanusiaan yang menjadi inti IHITS 2026. Momen ini langsung bikin aku merasakan betapa acara ini lebih dari sekadar summit, ini adalah perayaan kolaborasi, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Selama acara, aku melihat langsung bagaimana Dompet Dhuafa bekerja secara nyata. Tahun 2025 lalu, mereka berhasil menyalurkan lebih dari Rp422 miliar untuk berbagai program pemberdayaan, menjangkau lebih dari 2,8 juta penerima manfaat. Angka ini bikin aku tercengang, tapi yang lebih menyentuh adalah cerita di balik angka itu, setiap rupiah membawa perubahan nyata bagi kehidupan seseorang. Ada keluarga yang bisa kembali berdaya, anak-anak yang bisa sekolah, komunitas yang bisa bangkit dari keterbatasan. Data ini menunjukkan bahwa filantropi yang efektif benar-benar bisa mengubah kehidupan banyak orang.
Salah satu sesi yang paling membekas buatku adalah pemaparan dari Anis Matta. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kerja filantropi memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar penyaluran bantuan. Filantropi menurutnya, adalah instrumen penting bukan hanya untuk perubahan sosial, tapi juga untuk kesehatan mental dan spiritual. Memberi, membantu, dan memberdayakan orang lain menjadi cara untuk membersihkan diri dari sifat kikir dan tamak. Dari sesi ini, aku tersadar bahwa filantropi bukan hanya tentang mereka yang dibantu, tapi juga tentang bagaimana proses memberi itu membentuk manusia yang lebih empatik dan beradab.
Dan yang paling menarik, sesi bersama Sandiaga Uno, entrepreneur dan pembicara inspiratif. Sandiaga berbicara dengan penuh energi tentang bagaimana pemberdayaan ekonomi melalui inovasi, startup, dan kolaborasi sektor swasta bisa berjalan seiring dengan filantropi. Ia menekankan bahwa filantropi modern bukan hanya soal memberi bantuan, tapi juga membuka peluang ekonomi agar masyarakat bisa berkembang mandiri dan produktif. Dari penjelasannya, aku langsung tersadar bahwa kolaborasi antara entrepreneur, lembaga filantropi, dan masyarakat adalah kunci perubahan nyata.
Selain itu, Waryono Abdul Gofur dari Kementerian Agama juga memberikan insight yang membuka mata tentang bagaimana lembaga zakat bisa menjadi instrumen pemberdayaan strategis. Sesi dengan M. Attiatul Muqtadir, penerima manfaat Dompet Dhuafa juga menyentuh hati, mendengar langsung bagaimana hidupnya berubah membuat aku semakin dekat dengan dampak nyata yang dihasilkan.
Ada juga para panelist seperti Yudi Latif, intelektual dan pembimbing Dompet Dhuafa, yang membahas filantropi sebagai pilar kepercayaan publik. Sally Giovanny, pengusaha batik yang menekankan pemberdayaan UMKM berbasis budaya hingga Andhika Mahardika, founder startup yang berbagi pengalaman bagaimana teknologi bisa mendukung filantropi. Semua panelist menyampaikan pesan yang sama, perubahan sosial terjadi bila ada kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk bertindak.
Aku juga sempat berkeliling pameran program pemberdayaan, dan itu benar-benar menunjukkan skala serta keberagaman inisiatif Dompet Dhuafa. Ada program UMKM lokal, proyek agroindustri komunal untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian, hingga program pendidikan, kesehatan, dan literasi. Setiap booth memiliki perjalanan nyata, bagaimana masyarakat diberi alat, pengetahuan, dan peluang untuk bangkit dan mandiri. Aku bisa merasakan sendiri bahwa setiap program tidak hanya memberi bantuan, tapi memberi kesempatan untuk hidup lebih baik.
Peran lembaga zakat dan filantropi memang semakin menantang, apalagi di tengah berbagai masalah sosial dan ekonomi yang terus berkembang. Dompet Dhuafa tetap konsisten dalam memberdayakan masyarakat melalui program ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, dakwah, dan budaya yang terukur, berdampak, dan berkelanjutan. Kepercayaan publik pun terus dijaga, terlihat dari berbagai penghargaan yang mereka raih dan standar tata kelola yang diterapkan, menunjukkan bahwa filantropi bisa profesional, transparan dan berdampak nyata.
Sepanjang acara, aku melihat bagaimana setiap elemen tersusun rapi dan profesional, dari panggung talkshow, pameran program pemberdayaan, hingga penampilan seni budaya. Meski suasananya formal, energi positif summit tetap terasa, terutama dari cara para pembicara menekankan pemberdayaan, dampak nyata, dan peluang ekonomi. Rasanya aku benar-benar belajar, bahwa filantropi tidak hanya soal dana atau proyek, tapi tentang bagaimana memberdayakan manusia agar bisa mandiri.
Aku pulang dari IHITS 2026 dengan satu rasa, terinspirasi dan termotivasi. Melihat bagaimana Dompet Dhuafa mengubah kehidupan banyak orang membuat aku percaya, filantropi Indonesia tidak hanya soal memberi, tapi soal memberdayakan. Rasanya energi positif itu menular, bukan hanya untuk penerima manfaat, tapi juga untuk siapa saja yang hadir. Aku merasa ingin ikut bagian dari perubahan itu, sekecil apapun, karena setiap aksi punya dampak.
Acara ini mengingatkan aku bahwa pemberdayaan jauh lebih dari sekadar bantuan jangka pendek. Ketika orang diberi kesempatan untuk mandiri, mereka mampu menciptakan perubahan mereka sendiri. Dan itulah yang IHITS 2026 lakukan, membuka jalan, memberi alat, membangun kapasitas, sekaligus menyebarkan inspirasi. Rasanya bukan sekadar menghadiri sebuah summit, tapi menyaksikan gerakan perubahan nyata di Indonesia. Di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks, IHITS 2026 menegaskan bahwa filantropi sejati bukan hanya tentang memberi, tetapi memungkinkan lebih banyak orang hidup lebih mandiri, lebih bermartabat, dan membawa dampak dari satu aksi ke ribuan kehidupan.
- mariberleha -